Jumat, 20 April 2012

KULTUM UAS

TUGAS UAS
KULTUM RAMADHAN


DOSEN PENGAMPU:
Muslihin, SE.

Disusun Oleh:
ISTIQOMAH
NIM   : 3100005


SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH (STIT)
PEMALANG 2012



DAFTAR   ISI

1.   
Sampul Halaman ………………………………………………………………
1
2.   
Daftar Isi ……………………………………………………………………….
2
3.   
3 Hal Penyemangat Shaum di Bulan  Ramadhan ………………………………
3-4
4.   
Membiasakan  Berbuat Baik ……………………………………………………
5-6
5.   
Hindari Gosip Saat Berpuasa !  …………………………………………………
7-8
6.   
Ramdhan Momentum Terbaik menuju Ikhlas !  ………………………………
9-11
7.   
Keutamaan 10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan ………………………………
12-14
8.   
Inilah Bonus Ramdhan …………………………………………………………
15-16
9.   
Inilah Keajaiban Puasa  Bagi Tubuh dan Pikiran ………………………………
17 - 19
10.   
Puasa Dalam Al Quran  …………………………………………………………
20-22
11.   
3 Hal  Pengurang Nilai Shaum …………………………………………………
23- 24
12.   
25-26









3 HAL PENYEMANGAT SHAUM KITA DIBULAN RAMDHAN

1.      Pengampunan Dosa
Allah dan Rasul-Nya memberikan targhib (spirit) untuk melakukan puasa Ramadhan dengan menjelaskan keutamaan serta tingginya kedudukan puasa, dan kalau seandainya orang yang puasa mempunyai dosa seperti buih di lautan niscaya akan diampuni dengan sebab ibadah yang baik dan diberkahi ini.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, (bahwasanya) beliau bersabda (yang artinya) : “ Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisab (mengharap wajah ALLAH) maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” [Hadits Riwayat Bukhari 4/99, Muslim 759, makna "Penuh iman dan Ihtisab' yakni membenarkan wajibnya puasa, mengharap pahalanya, hatinya senang dalam mengamalkan, tidak membencinya, tidak merasa berat dalam mengamalkannya]
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu juga, -Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda (yang artinya) : “ Shalat yang lima waktu, Jum’at ke Jum’at. Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa yang terjadi di antara senggang waktu tersebut jika menjauhi dosa besar” [Hadits Riwayat Muslim 233].
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu juga, (bahwasanya) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah naik mimbar kemudian berkata : Amin, Amin, Amin” Ditanyakan kepadanya : “Ya Rasulullah, engkau naik mimbar kemudian mengucapkan Amin, Amin, Amin?” Beliau bersabda (yang artinya) : “ Sesungguhnya Jibril ‘Alaihis salam datang kepadaku, dia berkata : “Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan tapi tidak diampuni dosanya maka akan masuk neraka dan akan Allah jauhkan dia, katakan “Amin”, maka akupun mengucapkan Amin….” [Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah 3/192 dan Ahmad 2/246 dan 254 dan Al-Baihaqi 4/204 dari jalan Abu Hurairah. Hadits ini shahih, asalnya terdapat dalam Shahih Muslim 4/1978. Dalam bab ini banyak hadits dari beberapa orang sahabat, lihatlah dalam Fadhailu Syahri Ramadhan hal.25-34 karya Ibnu Syahin].
2.         Dikabulkannya Do’a dan Pembebasan Api Neraka
Rasullullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “ Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka setiap siang dan malam dalam bulan Ramadhan, dan semua orang muslim yang berdo’a akan dikabulkan do’anya” [Hadits Riwayat Bazzar 3142, Ahmad 2/254 dari jalan A'mas, dari Abu Shalih dari Jabir, diriwayatkan oleh Ibnu Majah 1643 darinya secara ringkas dari jalan yang lain, haditsnya shahih. Do'a yang dikabulkan itu ketika berbuka, sebagaimana akan datang penjelasannya, lihat Misbahuh Azzujajah no. 60 karya Al-Bushri]
3.         Orang yang Puasa Termasuk Shidiqin dan Syuhada
Dari ‘Amr bin Murrah Al-Juhani[1] Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Datang seorang pria kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata : “Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah, engkau adalah Rasulullah, aku shalat lima waktu, aku tunaikan zakat, aku lakukan puasa Ramadhan dan shalat tarawih di malam harinya, termasuk orang yang manakah aku ?” Beliau menjawab (yang artinya) : “ Termasuk dari shidiqin dan syuhada” [Hadits Riwayat Ibnu Hibban (no.11 zawaidnya) sanadnya Shahih]








MEMBIASAKAN BERBUAT BAIK
Salah satu kunci kesuksesan hidup kita adalah bagaimana kita membiasakan berbuat baik. Semakin kita terbiasa berbuat baik, maka semakin mudah jalan kita untuk mencapai kebahagiaan hidup.
Dalam suatu hadits qudsi, Allah SWT berfirman “Jikalau seseorang hamba itu mendekat padaKu sejengkal, maka Aku mendekat padanya sehasta dan jikalau ia mendekal padaKu sehasta, maka Aku mendekat padanya sedepa. Jikalau hamba itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan bergegas.” (HR. Bukhari)
Didalam melihat jalan hidup masyarakat di sekitar kita, bisa kita lihat bahwa beberapa orang mempunyai kecenderungan tertentu. Orang yang terbiasa berbuat maksiyat, maka dari hari kehari dia akan semakin terjerumus kedalam lembah yang hitam. Sebaliknya orang yang suka sholat berjamaah ke masjid, maka dia akan ramah ke tetangganya, rutin berinfaq dan bahagia kehidupan keluarganya.
Semakin seseorang memperbanyak dan membiasakan berbuat baik, maka semakin banyak terbuka pintu-pintu kebaikan yang lain. Hal ini sesuai dengan hadits qudsi diatas bahwa semakin tinggi intensitas dan kualitas ibadah kita kepada Allah SWT maka semakin dekatlah kita dengan-Nya.
Salah satu kunci kesuksesan hidup kita adalah bagaimana kita membiasakan berbuat baik. Semakin kita terbiasa berbuat baik, maka semakin mudah jalan kita untuk mencapai kebahagiaan hidup. Agar manusia terbiasa beribadah, maka beberapa ibadah dilakukan berulang dalam kurun waktu tertentu seperti sholat lima kali dalam sehari, puasa sunnah dua kali seminggu dan sholat jum’at sekali sepekan.
Permasalahan awal yang biasanya ditemukan dalam melakukan sesuatu yaitu dalam memulainya. Memulai suatu aktifitas terkadang lebih berat dibandingkan ketika melaksanakannya. Maka ketika kita mendorong mobil yang mogok, akan diperlukan tenaga yang besar saat sebelum mobil bergerak. Setelah mobil tersesebut bergerak, diperlukan daya dorong yang kecil. Ada juga sifat kita yang menunda perbuatan baik, padahal perbuakan baik janganlah ditunda. Kalau kita ada keinginan untuk menunda, maka tundalah untuk menunda. Hal ini seperti yang disampaikan Rasulullah saw:
“Bersegeralah untuk beramal, jangan menundanya hingga datang tujuh perkara. Apakah akan terus kamu tunda untuk beramal kecuali jika sudah datang: kemiskinan yang membuatmu lupa, kekayaan yang membuatmu berbuat melebihi batas, sakit yang merusakmu, usia lanjut yang membuatmu pikun, kematian yang tiba-tiba menjemputmu, dajjal, suatu perkara gaib terburuk yang ditunggu, saat kiamat, saat bencana yang lebih dahsyat dan siksanya yang amat pedih.” (HR. Tirmidzi)
Salah satu cara untuk mempermudah kita dalam memulai suatu amal ibadah adalah dengan mengetahui akan besarnya manfaat yang akan dirasakan. Segala hambatan atau godaan untuk tidak melaksanakan kebaikan tersebut akan bisa dilewatkan dengan keyakinan yang kuat. Oleh sebab itu, kita wajib untuk mencari ilmu tentang fadhilah (kelebihan) dari suatu amalan atau ibadah. Bahkan untuk menguatkan hati, kita juga perlu mencari ilmu secara berulang kali. Bahkan beberapa pengulangan dalam Al Quran digunakan agar manusia semakin ingat.
ôs)s9ur $uZøù§Ž|À Îû #x»yd Èb#uäöà)ø9$# (#r㍩.¤uÏ9 $tBur öNèd߃Ìtƒ žwÎ) #YqàÿçR
s“Dan sesungguhnya dalam Al Quran ini Kami telah ulang-ulangi (peringatan-peringatan), agar mereka selalu ingat. Dan ulangan peringatan itu tidak lain hanyalah menambah mereka lari.” (QS. Al Israa’ 41)
Jadi, mulailah perbuatan baik yang ingin anda lakukan sekarang dan jangan ditunda. Kalau belum yakin, perluas dan perdalam ilmu agar kita semakin yakin.




HINDARI GOSIP  SAAT BERPUASA !
Bulan puasa sudah di depan mata. Amal perbuatan kita menentukan kualitas puasa. Bahkan ada sebuah hadist Rasulullah saw berbunyi, “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya setara tasbih, amal ibadahnya dilipatgandakan (pahalanya), doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni”.
Itu menandakan tak ada detik tanpa ibadah, apalagi untuk bergosip di bulan puasa. Fadhilah Suralaga, dosen Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memberikan tips untuk menghindari gosip sehingga ibadah puasa kian bermakna.
Tips apa saja yang dianjurkan untuk dilakukan di bulan Ramadhan agar tak ada waktu untuk menggosip? Simak paparan sebagai berikut  :
1.         Memiliki Kesadaran Tinggi Tentang Makna Bulan Ramadhan
Menurut Fadhilah, esensi  puasa tidak hanya menahan makan dan minum saja tetapi juga harus meninggalkan keinginan hawa nafsu dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa dengan mengharapkan keridhaan Allah. “Puasa adalah tameng maka apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah dia berkata kotor dan janganlah bertengkar dengan mengangkat suara. Jika dia dicela dan disakiti maka katakanlah saya sedang berpuasa.

2.         Sibukan Diri  Dengan Hal-hal yang Bermanfaat
Fadhilah menganjurkan bagi orang yang berpuasa supaya mengisi waktu luang untuk mengoptimalkan ibadah, seperti; membaca al-Quran, membaca buku-buku agama, mengikuti pengajian, dan berzikir. Dengan demikian bagi orang berpuasa tidak punya waktu untuk mengunjungi teman atau tetangganya hanya untuk sekedar  menggosip
.
3.         Berbicaralah Hal  Yang Penting
Semakin banyak bicara maka akan banyak hal yang tidak penting dibicarakan. Sesungguhnya Nabi tidak hanya menyarakan berpuasa dari rasa lapar dan haus, tapi juga menjaga diri dari kesia-sian. Fadhilah menuturkan sebuah hadis Bukhari-Muslim “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam
4.         Mengubah Topik Pembicaraan Yang Menjurus Ke Gosip Dengan Berdiskusi Keagamaan Atau Hal-Hal Yang Bersifat Sosial
“Bisa juga membicarakan isu-isu hangat seperti pilkada atau membicarakan menu masakan,” ungkap Fadhila

5.         Selektif Mencari Informasi Dari Televisi, Radio, Dan Internet
Bila selama ini setiap hari menonton tayangan infotainment segeralah ganti chanel pada tayangan-tayangan keagamaan seperti ceramah agama. Atau selama ini, menyibukkan diri untuk chatting di jejaring sosial, gantilah membaca atau browsing artikel-artikel keagamaan yang menunjang pengetahuan tentang makna puasa.












Sudah sejak lama kita semua memprihatinkan kualitas tayangan dan program di televisi-televisi. Banyaknya unsur kekerasan, sensualitas, mistis, dan kemewahan amatlah jauh dari nilai-nilai agama dan moral.
Visi Islam sebenarnya yakni “Islam yang ramah, bukan Islam yang marah.” Nah, momentum bulan suci Ramadhan 1432 H hendaknya dijadikan sarana untuk mengembangkan ghirah keislaman yang menuju tatanan rahmatan lil alamin. Ayah dari delapan anak ini menekankan supaya segenap umat memanfaatkan kedatangan Ramadhan sebaik-baiknya.
“Perbanyak ibadah, karena pahala ibadah yang dilaksanakan di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan oleh Allah SWT,” ungkap dia.
Akan tetapi lanjut Nuril Huda, yang terpenting adalah bagaimana memaknai keutamaan ibadah Ramadhan untuk kemudian diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Oleh karenanya, aktivitas sosial jangan pula ditinggalkan, baik yang dilakukan selama Ramadhan dan bulan-bulan sesudahnya. Berikut refleksi Ramadhan dari KH Nuril Huda : Apa sebenarnya makna yang terkandung dari bulan Ramadhan?
Ramadhan yang ditandai dengan ibadah puasa sebulan penuh, pada hakekatnya adalah ujian bagi naluri manusia yang cenderung tak terkontrol. Naluri yang sulit dikendalikan itu adalah keinginan untuk makan dan minum. Sedangkan dari segi filosofisnya, ada dua falsafah yang dapat menguasai serta mendominasi kehidupan manusia, yakni materialisme dan spiritualisme. Mereka yang berorientasi pada materi, akan selalu hidup untuk dunianya saja. Kehendak naluri mereka tidak pernah terpuaskan dan ingin terus menambah apa-apa yang sebenarnya sudah dimiliki dengan berbagai macam cara. Orang-orang semacam ini tidak disukai Allah. Sementara itu orientasi spiritualisme adalah sebaliknya. Mereka tidak mementingkan materi dunia melainkan hanya mencari kerahmatan Allah SWT. Namun seperti kita ketahui, agama Islam adalah agama yang seimbang. Ia menghormati rohani dan jasmani, memperhatikan nilai-nilai ideal manusia, tapi juga menjamin kebutuhan hidup naluri duniawinya asalkan sesuai nilai-nilai agama. Apa yang bisa dipetik dari Ramadhan adalah bagaimana umat dapat menyelaraskan kebutuhan di dunia dan akherat. Ibadah diperlukan sebagai bekal menuju kehidupan di alam nanti, sementara amal perbuatan di dunia menjadi perwujudan nyata dari ketaqwaan terhadap Islam. Juga bulan penuh ampunan?
Betul sekali. Ramadhan adalah bulan penuh barokah, rahmat, dan kebahagiaan. Umat perlu merenung sejenak untuk bersiap-siap menyambutnya berikut menelaah kebaikan-kebaikan yang dikandungnya. Allah SWT menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan yang agung, memberikan keistimewaan yang banyak sekali. Pada bulan ini seorang muslim mencurahkan sebagian besar perhatiaan kepada Allah, akherat dan peningkatan ruhani sebelum peningkatan materi. Ia adalah bulan ruhani, bulan munajat, serta waktu untuk menghadap kepada Allah, memohon pertolongan dari Yang Maha Tinggi. Hendaknya selama Ramadhan, umat memperbanyak bertaubat, memohon ampun dan mengevaluasi kembali lembaran masa lalu. Rasulullah SAW pun senantiasa bertaubat setiap hari di bulan Ramadhan. Oleh karenanya, momentum Ramadhan harus dipergunakan untuk menghapus dosa dan sekaligus membangun komitmen memperbaiki diri di masa mendatang.
Tapi masalahnya selama ini, orang hanya bergiat ibadah di bulan Ramadhan, sesudahnya intensitas ibadah cenderung menurun. Apa yang perlu dibenahi dalam rangka membina keimanan dan takwa yang sifatnya permanen?
Yang terpenting adalah membangun rasa keikhlasan yang sebenar-benarnya. Ikhlas untuk memanjatkan doa, beribadah, serta bertakwa kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Saat sekarang, mungkin masih banyak di antara kita yang harus menebalkan kembali keikhlasan ini, terutama karena banyaknya tantangan dan kendala yang kerap ditemui. Saya sepakat agar jangan menjadikan ibadah sebagai sesuatu yang sifatnya ritual semata. Patut dicamkan, interaksi yang dikehendaki di bulan Ramadhan adalah interaksi dalam ketaatan kepada Allah, tidak sekedar sambil lalu. Maka, hendaklah semua umat menjadikan bulan suci ini untuk meningkatkan amal ibadah sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah. Fenomena yang sama juga ditemui pada tayangan Ramadhan di televisi. Gencarnya program bernuansa religi saat Ramadhan tidaklah seperti halnya di bulan-bulan lain?
Sudah sejak lama kita semua memprihatinkan kualitas tayangan dan program di televisi-televisi. Banyaknya unsur kekerasan, sensualitas, mistis, dan kemewahan amatlah jauh dari nilai-nilai agama dan moral. Walau nantinya akan ada payung hukum, misalnya UU pornografi, namun saya kira itu tidak bakal cukup kuat meredam maraknya tayangan yang dapat merusak akhlak. Kita sudah meminta secara terus menerus agar televisi membatasi diri. Negara ini sudah bangkrut. Oleh karenanya, jangan ditambah lagi dengan upaya-upaya yang dapat menambah kesengsaraan dan kemaksiatan di tengah masyarakat. Masih untung kita diberi umur panjang, sebab jika Allah SWT sudah murka dan menurunkan adzab-Nya yang lebih pedih, wah apa jadinya negara ini. Wajar kita khawatir pada tayangan televisi sebab televisi punya pengaruh yang sangat kuat. Dengan begitu menjadi kewajiban moral bagaimana agar pengelola televisi tidak mementingkan sisi komersial. Saya rasa bulan Ramadhan ini bisa dijadikan langkah memperbaiki segi tayangan dan program, alhadulillah kalau itu bisa berlanjut di bulan selain Ramadhan. Apa-apa saja yang perlu dilaksanakan agar kita siap secara lahir maupun bathin selama bulan Ramadhan ?
Pada dasarnya, Ramadhan merupakan kesempatan terbaik umat untuk lebih mendekatkan diri kepada sang Pencipta. Ibaratnya kita tengah melakukan perjalanan menuju keridhoan Allah SWT. Para ulama kerap menggambarkan hal tersebut sebagai perjalanan yang banyak terdapat ujian dan tentangan. Di situ misalnya, ada gunung yang harus didaki, itulah nafsu. Selanjutnya tergantung masing-masing umat, sesuai tekad dan semangat, apakah mampu menguasai tantangan yang menghadang. Bila berhasil, capaiannya yang dapat diketahui adalah orang tersebut mampu mengendalikan hawa nafsunya. Bila sudah sampai pada tahap itu, dia dapat melanjutkan perjalanan untuk meraih ridho Allah SWT. Namun diperlukankan bekal yang cukup agar sampai ke tujuan. Bekal itu berupa amal kebajikan. Selain itu, harus ada tekad yang keras untuk memerangi nafsu tadi, agar setiap malam Ramadhan dapat dimuliakan dengan shalat dan tadarrus serta ibadah lainnya.





Bulan Ramadhan merupakan bulan yang agung, bulan yang selalu dijadikan momentum untuk meningkatkan kebaikan, ketakwaan serta menjadi ladang amal bagi orang-orang yang shaleh dan beriman kepada Allah SwT.
Tidak terasa, Ramadhan tahun ini sudah mendekati akhir karena telah telah memasuki 10 hari terakhir. Sebagian ulama kita membagi fase bulan Ramadhan dengan tiga bagian. Fase pertama, yaitu 10 hari pertama adalah sebagai fase rahmat, 10 hari kedua atau pertengahan adalah fase maghfiroh, serta fase ketiga atau 10 hari terakhir adalah fase pembebasan dari api neraka. Maka saat ini kita berada dalam fase ketiga, yaitu fase pembebasan dari api neraka. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Salman al- farisi, “Adalah bulan Ramadhan, awalnya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”
Rasulullah Muhammad Saw, yang merupakan manusia terpilih dan suri tauladan terbaik bagi kita, jika Ramadhan memasuki 10 hari terakhir, maka beliau semakin memaksimalkan diri dalam beribadah. Beliau menghidupkan malam harinya untuk mendekatkan diri kepada Allah SwT, bahkan beliau membangunkan keluarganya agar turut beribadah. Dari Aisyah r.a., ia menceritakan tentang keadaan Nabi Saw ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, “Beliau jika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, mengencangkan ikat pinggang, menghidupakn malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari).
Rasulullah Saw sangat memerhatikan 10 hari terakhir bulan Ramadhan karena di dalamnya begitu banyak keutamaan yang bisa didapatkan pada waktu-waktu tersebut. Beberapa di antaranya: Pertama, sebagaimana sudah lazim kita pahami bahwa sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan adalah turunnya lailatul qadr. Malam yang sangat dinantikan untuk didapatkan oleh orang-orang yang melaksanakan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan pengharapan ridha Allah SwT, karena pada malam tersebut siapa saja yang beribadah kepada Allah SwT dengan penuh keimanan dan pengharapan kepada Allah SwT maka nilai ibadahnya sama dengan bernilai ibadah selama 1000 bulan yang juga berarti sama dengan 83 tahun 4 bulan. Sebagaimana firman Allah SwT dalam surat Al-Qadr ayat 3:
ä's#øs9 Íôs)ø9$# ׎öy{ ô`ÏiB É#ø9r& 9öky­ ÇÌÈ
“Lailatul Qdr itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3).
Tentunya dengan mendapatkan lailatul qadr adalah suatu hal yang sangat membahagiakan bagi orang yang beriman yang melaksanakan ibadah puasa dengan penuh keimanan kepada Allah SwT. oleh karenanya, pada hari 10 terakhir ini tidak sedikit dari kaum muslimin yang melakukan i’tikaf di masjid agar rangkaian ibadah yang dilaksanakan, shalat malam, tadarus Al-Qur’an, berdzikir dan amalan-amalan lainnya dapat dilaksanakan dengan khusyuk, tentunya dengan tujuan lailatul qadr dapat diraih. Pada malam tersebut keberkahan Allah swT melimpah ruah, banyaknya malaikat yang turun pada malam tersebut, termasuk Jibril a.s. Allah SwT berfirman:
O»n=y }Ïd 4Ó®Lym Æìn=ôÜtB ̍ôfxÿø9$# ÇÎÈ
 “Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar.” (QS. Al-Qadr; 5).
Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah saw juga menyebutkan tentang keutamaan melakukan qiyamullail di malam tersebut. Beliau bersabda. “Barangsiapa melakukan shalat malam pada lailatul qadr karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Keutamaan kedua adalah sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan merupakan pamungkas bulan ini, sehingga hendaknya setiap insan manusia yang beriman kepada Allah SwT mengakhiri Ramadhan dengan kebaikan, yaitu dengan berupaya dengan semaksimal mungkin mengerahkan segala daya dan upayanya untuk meningkatkan ibadah pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Karena amal perbuatan itu tergantung pada penutupnya atau akhirnya.
Rasullah Saw bersabda: “Ya Allah, jadikan sebaik-baik umurku adalah penghujungnya. Dan jadikan sebaik-baik amalku adalah pamungkasnya. Dan jadikan sebaik-baik hariku adalah hari di mana saya berjumpa dengan-Mu kelak.”
Dengan demikian mari kita maksimalkan sisa-sisa bulan Ramadhan ini dengan meningkatkan amaliyah ibadah kita kepada Allah SwT dengan qiyamullail (menghidupkan malam) pada bulan Ramadhan, khususnya pada malam-malam penghujung bulkan ini. Semoga kita mendapatkan segala limpahan kemuliaan dari Allah SwT. Amiiiin……

















Inilah Bonus Ramadhan!
ÏpžÒÏÿø9$#ur È@øyø9$#ur ÏptB§q|¡ßJø9$# ÉO»yè÷RF{$#ur Ï^öysø9$#ur 3 šÏ9ºsŒ ßì»tFtB Ío4quysø9$# $u÷R9$# ( ª!$#ur ¼çnyYÏã ÚÆó¡ãm É>$t«yJø9$# ÇÊÍÈ
14.  Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).
[186]  yang dimaksud dengan binatang ternak di sini ialah binatang-binatang yang termasuk jenis unta, lembu, kambing dan biri-biri.
Memang, manusia harus seimbang antara materi dan rohani. Namun, orang yang bisa melepaskan diri dari kekuasaan kemateriannya, akan naik ke derajat malaikat. Saat orang berpuasa, berusaha untuk meninggalkan kemateriannya dan menuju alam malakut. Sehingga, Allah menyanjungnya dalam hadis Qudsi yang artinya:  “Setiap amalan anak cucu Adam adalah baginya kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku dan Aku akan langsung membalasnya. Puasa adalah perisai, jika salah seorang berpuasa jangan berkata kotor dan jangan bertengkar. Bila dihina seorang atau diajak duel, hendaknya menjawab: aku sedang puasa …” (HR Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah).
Itulah bonus bagi orang yang puasa Ramadhan. Agar manusia yang materialis ini bisa tawazun (seimbang), Allah memberi motivasi dengan berbagai cara. Sebagai makhluk ekonom, ia tertarik dengan segala bentuk transaksi yang menguntungkan. Untuk itu, Alquran banyak menggunakan istilah ekonomi, seperti istilah transaksi (as-Shaf: 10), rugi dan timbangan (ar-Rahman: 9), dan lainnya.
Supaya umat Islam di bulan Ramadhan mencapai puncak dalam ibadah maka Allah menyediakan beragam bonus. Rasulullah SAW bersabda, “Umatku diberi lima keistimewaan pada bulan Ramadhan yang tidak diberikan kepada umat sebelum mereka:  Bau mulutnya orang-orang puasa lebih wangi di sisi Allah dibandingkan bau minyak kasturi, setiap hari malaikat memintakan ampunan bagi mereka saat berpuasa sampai berbuka, Allah menghiasi surga untuk mereka kemudian berfirman, “Hamba-hamba-Ku yang saleh tengah melepaskan beban dan kesulitan maka berhiaslah, setan-setan dibelenggu sehingga tidak bisa menggoda dan orang-orang puasa diampuni dosa-dosa mereka pada malam terakhir bulan Ramadhan.” (HR Ahmad, al-Bazzar, al-Baihaqi).
Selain itu, pada malam pertama Ramadhan setan dibelenggu, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan penyeru dari langi memanggil, “Wahai pencari kebaikan, songsonglah dan wahai pencari kejahatan berhentilah! Dan, Allah membebaskan banyak manusia dari neraka setiap malam Ramadhan.”
Orang yang berpuasa diberi keistimewan dengan dua kebahagiaan, yakni kebahagiaan saat berbuka dan saat bertemu dengan Allah di surga. Di surga ada pintu yang disiapkan untuk orang puasa, yaitu pintu ar-rayyan. Bila para shoimin di dunia telah masuk, semua pintu ditutup dan tidak ada yang masuk lagi selain mereka.
Lebih dari itu, di bulan suci ini, Allah menyediakan satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu lailatul qadar (malam kemuliaan). Barang siapa yang tidak mendapat kebaikan malam itu sungguh dia termasuk orang celaka. Demikian besar bonus yang disediakan Allah pada setiap Ramadhan. Tidak cukupkah bagi kita untuk bermujahadah dalam beribadah demi menyongsong keutamaannya? Boleh jadi di antara kita, ada yang tidak bertemu kembali dengan bonus-bonus Ramadhan.







Banyak orang berlomba-lomba datang ke salon kecantikan atau ke dokter bedah plastik demi terlihat memikat dan awet muda meski harus merogoh ongkos banyak karena tak ingin ada kerutan di wajah. Padahal muda dan tua adalah sunnahtullah yang harus dialami.
Tapi bagi yang ingin tetap awet muda, anda tak perlu  mengeluarkan uang banyak untuk membayar jasa kecantikan atau untuk membeli produk kecantikan. Cukup dengan memanfaatkan bulan puasa. Apa bukti ilmiahnya?
Puasa akan mengurangi atau menghentikan sementara proses-proses fisiologis atau metabolisme didalam tubuh kita, khususnya disaluran pencernaan.  Penghentian proses metabolisme itu membawa empat rangkaian proses yang berdampak besar pada kesehatan.  Bila seseorang bepuasa berarti ia, pertama membatasi jumlah makanan yang masuk dalam saluran pencernaan, kedua, ia telah menurunkan intensitas kerja sistem pencernaan kita.
Lalu ketiga, dengan turunnya intensitas kerja itu, turun pula kemungkinan adanya racun dari dalam tubuh, baik endotoksin (racun dari dalam tubuh sendiri) maupun eksotoksin (racun dari luar tubuh). Berkurangnya bahan yang harus dicerna juga akan membuat tubuh kita tidak memaksakan diri untuk mengeluarkan hormon dan enzim pencernaan secara besar-besaran.
Bayangkan sebaliknya bila anda tidak berpuasa. Yang pasti semua makanan yang masuk dalam tubuh harus dicerna. Mau tidak mau, kita akan memaksa organ pencernaan kita bekerja lebih keras.
Menurut para pakar, yang disebut awet muda pada dasarnya adalah proses penuaan dini yang dihambat.  Diantara beberapa teori penuaan salah satu yang paling terkenal pada tahun 1950-an adalah teori radikal bebas. Teori radikal bebas berbunyi,” kalau didalam tubuh kita banyak radikal bebas, maka radikal bebas itu secara seluler (arahnya ke sel-sel tubuh) akan merusak dinding sel. Perusakan dinding sel itu akan mempercepat penuaaan.”
Puasa ternyata ampuh melindungi dinding sel.  Dinding sel bisa dipertahankan karena radikal bebasnya tidak ada atau dikurangi (karena puasa), maka orang menjadi awet muda”
Ada sebuah penelitian yang mengungkapkan bahwa pada orang yang berpuasa, MDA (melondealdehid) yang sifatnya radikal bebas, ternyata berkurang hingga 90%. Bersama dengan itu, disisi lain puasa meningkatkan pembuatan antioksidan hingga 15%. “Jadi disatu sisi radikal bebas itu dipangkas, disisi lain musuh radikal bebas (antioksidan) ditingkatkan” Oleh karena itu, kita tak perlu heran lagi kenapa rajin berpuasa bisa bikin awet muda
Pikiran Lebih Tajam
Bukan hanya awet muda, puasa pun memiliki dampak luar biasa terhadap pikiran. “Puasa ibarat mata air. Semakin digali airnya semakin deras,” kata seorang master trainer sekaligus pakar Neuro-Linguistic Programming (NLP), Ikhwan Sofa. “Begitu juga dalam ilmu modern, setiap hari manfaat puasa dapat ditemukan dari berbagai aspek,” ujarnya. Pengaruh puasa pada pikiran dan mental itu pula yang mempengaruhi tampilan muda seseorang.
Ia  mengungkapkan selama berpuasa, kerja pikiran melambat. Pelambatan tersebut, menurut Ikhwan, membuat pikiran lebih jernih karena berpikir lebih dalam.
Secara ilmiah, ungkap Ikhwan, pikiran yang melambat ketika lapar, ternyata menjadi lebih tajam, juga secara instingtif. Bukti ilmiah ini bisa diterima terkait dengan fakta bahwa masalah lapar adalah masalah kelanjutan hidup. Jadi wajar saja, jika rasa lapar membuat pikiran semakin tajam dan kreatif.
Ikhwan menunjukkan sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat. Sekelompok mahasiswa di University of Chicago diminta berpuasa selama tujuh hari. Selama masa itu, terbukti bahwa kewaspadaan mental mereka meningkat dan progres mereka dalam berbagai penugasan kampus mendapat nilai tinggi.
Dengan demikian, menurut Ikhwan, dapat disimpulkan, bahwa fisik dan mental mengalami kenaikan tingkat saat berpuasa. Salah satu yang paling menonjol adalah kestabilan emosi, yang disebabkan oleh terbebasnya mereka dari ketergantungan pada makanan, terutama dari makanan dan minuman pemicu emosi seperti kopi, coklat, gula, dan lemak yang telah terbukti punya dampak buruk untuk kestabilan emosi.
Selain itu, imbuh Ikhwan, orang yang berpikir jernih akan lebih terbuka menerima firman Tuhan. “Dunia ini dipenuhi oleh hiruk pikuk teknologi yang sangat hebat dalam hal menarik perhatian kita. Semuanya berlomba-lomba tak kenal lelah. Dan Tuhan, jelas tidak termasuk dalam kompetisi ini. Dia tetap menunggu kita, sampai kita mengheningkan jiwa, sampai kita siap untuk mendengar-Nya,” ungkapnya.













Sudah banyak pakar membahas hikmah dan filosofi ibadah puasa. Ada yang mengaitkan puasa dengan teori-teori kedokteran, seperti dilakukan Muhammad Farid Wajdi, salah seorang murid Shekh Muhammad Abduh. Ada pula yang mengaitkannya dengan kepedulian sosial dan rasa kesetiakawanan, serta tidak sedikit pula yang mengaitkan puasa dengan pendidikan kepribadian. Berbagai hikmah yang dikemukan para pakar di atas, tentu saja memiliki alasan-alasan dan logikanya sendiri.
Dalam Alquran, menurut penyelidikan Muhammad Fuad Abd al-Baqi dalam Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfadz Alquran , kata puasa ( al-shaum ) terulang sebanyak 14 kali dalam berbagai bentuknya. Khusus mengenai puasa Ramadhan, dapat dilihat keterangannya secara beruntun dalam surah al-Baqarah ayat 183 s/d 167. Berdasarkan penyelidikannya yang mendalam terhadap ayat-ayat mengenai puasa di atas, Abdul Halim Mahmud, mantan Rektor al-Azhar, dalam bukunya Asrar al-’Ibadah (Rahasia Ibadah), mengemukakan tiga hikmah penting ibadah puasa.
Pertama,
$ygƒr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä |=ÏGä. ãNà6øn=tæ ãP$uÅ_Á9$# $yJx. |=ÏGä. n?tã šúïÏ%©!$# `ÏB öNà6Î=ö7s% öNä3ª=yès9 tbqà)­Gs? ÇÊÑÌÈ
Hai orang –orang yang beriman,  diwajibkan atas kamu berpuasa  sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu  agar kamu bertakwa (Q.S. Al Baqarah : 183 )
Karena tujuan utama puasa adalah takwa, maka menurut Abdul Halim Mahmud, setiap orang yang berpuasa harus mampu mengorganisir seluruh organ tubuhnya dan mengatur semua aktivitasnya ke arah tujuan yang hendak dicapai itu (takwa).



Kedua
183.  ãöky­ tb$ŸÒtBu üÏ%©!$# tAÌRé& ÏmŠÏù ãb#uäöà)ø9$# Wèd Ĩ$¨Y=Ïj9 ;M»oYÉit/ur z`ÏiB 3yßgø9$# Èb$s%öàÿø9$#ur 4 `yJsù yÍky­ ãNä3YÏB tök¤9$# çmôJÝÁuŠù=sù ( `tBur tb$Ÿ2 $³ÒƒÍsD ÷rr& 4n?tã 9xÿy ×o£Ïèsù ô`ÏiB BQ$­ƒr& tyzé& 3 ߃̍ムª!$# ãNà6Î/ tó¡ãŠø9$# Ÿwur ߃̍ムãNà6Î/ uŽô£ãèø9$# (#qè=ÏJò6çGÏ9ur no£Ïèø9$# (#rçŽÉi9x6çGÏ9ur ©!$# 4n?tã $tB öNä31yyd öNà6¯=yès9ur šcrãä3ô±n@ ÇÊÑÎÈ ,
185.  (beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (Q.S. Al Baqarah : 185 )
Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
Karena itu, turunnya wahyu itu patut disambut dan ”dirayakan”. Namun, perayaan ini haruslah dengan kegiatan yang sesuai. Dalam kaitan ini, penyambutan dan ”perayaan” itu hanya patut dilakukan dengan mempersiapkan diri untuk bisa menerima petunjuk itu dengan cara yang paling baik, yaitu puasa.
Ketiga,
Puasa membuat pelakunya dekat dengan Tuhan dan semua permohonan dan doanya didengar dan dikabulkan. Inilah makna firman Allah  :
#sŒÎ)ur y7s9r'y ÏŠ$t6Ïã ÓÍh_tã ÎoTÎ*sù ë=ƒÌs% ( Ü=Å_é& nouqôãyŠ Æí#¤$!$# #sŒÎ) Èb$tãyŠ ( (#qç6ÉftGó¡uŠù=sù Í< (#qãZÏB÷sãø9ur Î1 öNßg¯=yès9 šcrßä©ötƒ ÇÊÑÏÈ
186.  Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Q.S. Al Baqarah : 186 )
Menyimak beberapa hikmah yang dapat dipetik dari ayat-ayat di atas, nyatalah bahwa puasa merupakan sesuatu yang semestinya kita lakukan. Ia bukan semata kewajiban, melainkan suatu kebutuhan. Untuk itu, setiap muslim harus menyambut gembira datangnya Ramadhan ini dan melaksanakan ibadah puasa dengan penuh suka cita. Dengan begitu, setiap kita mempunyai alasan moral untuk mendapat pengampunan Tuhan dan pembebasan dari siksa-Nya











marilah kita berpuasa dengan benar, baik secara lahiriah (tidak makan dan minum) maupun memuasakan hati dan pikiran kita dari hal-hal yang buruk.
Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah SAW menyatakan, banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak menghasilkan apa pun dari puasanya, selain lapar dan haus. (HR Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).
Hadis ini mengisyaratkan secara tegas bahwa hakikat shaum (puasa) itu, sesungguhnya, bukanlah hanya menahan lapar dan dahaga. Akan tetapi, puasa adalah menahan diri dari ucapan dan perbuatan kotor yang merusak dan tidak bermanfaat. Termasuk juga kemampuan untuk mengendalikan diri terhadap cercaan dan makian orang lain. Itulah sebagian dari pesan Rasulullah SAW terhadap kaum Muslimin yang ingin puasanya diterima Allah SWT.
Pada umumnya, orang yang berpuasa mampu menahan diri dari makan dan minum, dari terbit fajar sampai terbenam matahari, sehingga puasanya sah secara hukum syariah. Akan tetapi, banyak yang tidak mampu (mungkin juga kita) mengendalikan diri dari hal-hal yang mereduksi, bahkan merusak pahala puasa yang kita lakukan.
Pertama, ghibah, menyebarkan keburukan orang lain, tanpa bermaksud untuk memperbaikinya. Hanya agar orang lain tahu bahwa seseorang itu memiliki aib dan keburukan yang disebarkan di televisi dan ditulis dalam surat kabar dan majalah, lalu semua orang mengetahuinya. Penyebar keburukan orang lain pahalanya akan mereduksi sekalipun ia melaksanakan puasa, bahkan mungkin hilang akibat perbuatan ghibah yang dilakukannya.
Kedua, memiliki pikiran-pikiran buruk dan jahat, dan berusaha melakukannya, seperti ingin memanfaatkan jabatan dan kedudukan untuk memperkaya diri, terus-menerus melakukan korupsi, mengurangi takaran dan timbangan, mempersulit orang lain, dan melakukan suap-menyuap. Jika hal itu semua dilakukan, perbuatan tersebut pun dapat mereduksi pahala puasa, bahkan juga dapat menghilangkan pahala serta nilai-nilai puasa itu sendiri.
Ketiga, sama sekali tidak memilik empati dan simpati terhadap penderitaan orang lain yang sedang mengalami kelaparan atau penderitaan, miskin, dan tidak memiliki apa-apa. Orang yang berpuasa, akan tetapi tetap berlaku kikir dan bakhil, nilai puasanya akan direduksi atau dihilangkan oleh Allah SWT.
Oleh karena itu, marilah kita berpuasa dengan benar, baik secara lahiriah (tidak makan dan minum) maupun memuasakan hati dan pikiran kita dari hal-hal yang buruk. Latihlah pikiran dan hati kita untuk selalu lurus dan jernih, disertai dengan kepekaan sosial yang semakin tinggi. Berusahalah membantu orang-orang yang sedang mengalami kesulitan hidup. Wallahu a’lam bish-shawab.














Pada kebanyakan orang, Bulan puasa Ramadhan dijadikan bulan untuk lemas, mengantuk dan tidak bergairah. Selain itu, bagi orang yang bekerja, terkadang ritual ibadah puasa menghalangi mereka untuk lebih meningkatkan gairah dan etos kerja.
Padahal sebaliknya, kata mubaligh ibu kota Ustadz Muchsinin Fauzi Lc, bulan Ramadhan justru sebagai momen yang sangat tepat untuk meningkatkan vitalitas dan etos kerja.
Muchsinin menjelaskan, betapa istimewanya bulan suci ini. Di dalam bulan Ramadhan, ada dua hal besar yang pernah terjadi sepanjang sejarah Islam. Pertama, menangnya umat Muslim dalam perang Badar. Kedua, peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah). “Hal-hal penting terjadi di bulan Ramadhan. Mereka mampu melakukan hal besar dalam kondisi berpuasa. Kita pun harusnya demikian. Jadikan Ramadhan sebagai big performance umat Islam,” ujarnya, Kamis (19/8) dalam tausiyah dalam acara buka bersama awak Newsroom Republika dan Republika Online di Jakarta.
Big performance, menurut Muchsinin, adalah perwujudan  umat Islam dalam bulan Ramadhan yang tercermin dengan semangat baru dan siap meningkatkan kualitas kerja. Karena, seperti tadi yang telah diurai, dalam bulan Ramadhan telah terjadi serangkaian peristiwa berat dan besar, namun dapat dicapai. “Jadikan peristiwa itu sebagai tonggak untuk memotivasi diri,” ujarnya.
Menurutnya, ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang cenderung menurun kualitasnya pada bulan Ramadhan. Pertama, orang tersebut belum siap menghadapi Ramadhan. “Karena belum siap, ia pun tak terbiasa lapar, haus dan lain sebagainya,” ujarnya. Kedua, visi seseorang tersebut tidak sesuai dengan Ramadhan. Oleh karenanya Ramadhanya lemah. “Ramadhan itu jalan menuju utara. Menuju Allah. Jika visinya berbeda, maka akan sulit jalani Ramadhan,” ungkapnya.
Selain itu, lanjut Muchsinin, sepanjang hayatnya, manusia itu dibekali hawa nafsu itulah mengapa Allah perintahkan untuk berpuasa. “Agar nafsunya jinak,” katanya. Orang yang bekerja pun demikian. Mereka dibekali hawa nafsu lengkap dengan pengujian kesabaran dan ketabahan. Mereka diuji apakah Ramadhan kualitas kerja mereka menurun padahal bulan selain Ramadhan etos kerja mereka baik.
Muchsinin pun menyarankan, setiap pekerjaan yang kita lakukan itu harus diniatkan karena Allah Swt dan diniatkan sebagai bentuk penghambaan diri padaNya. Tak peduli dengan gaji yang didapat dengan jam kerja yang panjang. Intinya, keprofesionalan terwujud karena kita bertanggung jawab kepada Allah. Bukan karena jabatan, apalagi materi yang didapat. Oleh sebabnya, muslim yang tangguh tak menjadikan gaji sebagai motivasinya. “Gaji bukan motivasi tapi kontrak kerja. Muslim yang ingin memiliki etos kerja yang bagus, motivasinya juga harus benar,” tegasnya.
Lebih lanjut, ustadz lulusan Universitas Madinah ini juga memaparkan perihal sedekah. Orang yang paling bahagia ialah orang yang bekerja karena Allah, lalu bersifat dermawan. Sedekah yang sempurna baginya ialah sedekah orang yang senantiasa memberi baik dalam keadaan lapang dan sempit. Nabi Muhammad Saw pun demikian, saat bulan Ramadhan, tak pernah berhenti untuk memberi. “Sedekah Nabi seperti angin berhembus. Tidak pernah berhenti. Baik lapang maupun sempit. Itulah orang yang paling bahagia,” katanya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar